Anda di halaman: Home Fiqih Wanita Hukum Steril

Hukum Steril


Pertanyaan Assalamualaikum,
Semenjak menikah sampai saat ini saya tidak menggunakan KB, sekarang saya sedang mengandung anak ke empat, kelahiran pertama dan kedua normal sedangkan ketiga harus operasi cesar krn keadaan saya yg tidak memungkinkan sebagai penderita asma, kelahiran keempat ini pun dokter menyarankan untuk operasi cesar dan langsung steril karena saya termasuk subur, dan dokter juga menyatakan bila saya hamil lagi maka resikonya akan lebih besar
Yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya dengan steril, steril yg saya tahu ada 2 dipotong dan diikat, bagaimana hukum keduanya

terimakasih

wassalam

Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Pada dasarnya kita tahu bahwa Allah SWT memberikan amanah kepada kita untuk berketurunan. Dengan harapan agar keturunan itu akan menjadi penerus perjuangan kita dan menjadi unsur-unsur perbaikan dalam masyarakat. Karena itu Rasulullah SAW berpesan untuk memperbanyak keturunan dengan sabdanya :

Nikahlah wanita yang banyak keturunan karena aku berbanyak-banyak jumlah dengan umat yang lain

Anjuran Rasulullah saw untuk memperbanyak keturunan tidak berarti agar keluarga muslim mendapatkan anak setiap tahun. Karena kalau kita konsekwen terhadap pengajaran Islam maka minimal seorang muslim mendapatkan anak setiap tiga tahun, karena setiap bayi yang melahirkan ada hak untuk menyusui dua tahun. Dan begitu juga seorang ibu punya hak untuk istirahat. Jika difahami secara baik, maka Islam mengajarkan perencanaan yang matang dalam mengelola keluarga dan mengaturnya dengan baik. Dalam konteks inilah KB dibolehkan.


Sedangkan upaya pembatasan keturunan secara masal dalam skala sebuah umat, maka hal tersebut diharamkan, diharamkan untuk mempromosikannya, apalagi memaksanya dan diharamkan menerimanya. Syariah Islam tidak melarang seseorang untuk melakukan KB jika dilakukan berdasarkan motivasi-motivasi pribadi dengan syarat-syarat yang sesuai syar'i, seperti: daf'ul haraj ( menolak kesempitan), ad-dharar yuzaal (bahaya harus di hilangkan). Sebagaimana ciri khas ajaran Islam dalam firman Allah SWT :

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan". al-Hajj: 78

Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Baqarah: 173

Untuk itu berkaitan dengan pencegahan atau pembatasan kehamilan, para ulama kelas dunia telah membuat beberapa fatwa, antar lain kami kutipkan :

1. Muktamar Lembaga Riset Islam di Kairo

Dalam muktamar kedua tahun 1385 H/1965 M menetapkan keputusan sbb:

Sesungguhnya Islam menganjurkan untuk menambah dan memperbanyak keturunan, karena banyaknya keturunan akan memperkuat umat Islam secara sosial, ekonomi dan militer. Menambah kemuliaan dan kekuatan. Jika terdapat darurat yang bersifat pribadi yang mengharuskan pembatasan keturunan, maka kedua suami istri harus diperlakukan sesuai dengan kondisi darurat. Dan batasan darurat ini dikembalikan kepada hati nurani dan kualitas agama setiap pribadi.

2. Pernyataan Badan Ulama Besar di Kerajaan Arab Saudi

Pernyataan no:42 tanggal 13/4 1396 H:

Dilarang melakukan pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh menolak kehamilan jika sebabnya adalah takut miskin. Karena Allah Ta?ala yang memberi rejeki yang Maha Kuat dan Kokoh. Tidak ada binatang di bumi kecuali Allah-lah yang menanggung rejekinya. Adapun jika mencegah kehamilan karena darurat yang jelas, seperti jika wanita tidak mungkin melahirkan secara wajar dan akan mengakibatkan harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan anaknya. Atau melambatkan untuk jangka waktu tertentu karena kemashlahatan yang dipandang suami-istri maka tidak mengapa untuk mencegah kehamilan atau menundanya. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan sebagian besar para sahabat tentang bolehnya azl (coitus terputus).

3. Pernyataan Majelis Lembaga Fiqh Islami

Dalam edisi ketiga tentang hukum syari KB ditetapkan di Mekkah 30-4-1400 H:

Majelis Lembaga Fiqh Islami mentepakan secara sepakat tidak bolehnya melakukan pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh juga menolak/mencegah kehamilan kalau maksudnya karena takut kemiskinan. Karena Allah Taala yang memberi rejeki yang sangat kuat dan kokoh. Dan semua binatang di bumi rejekinya telah Allah tentukan. Atau alasan-alasan lain yang tidak sesuai dengan Syariah. Sedangkan mencegah kehamilan atau menundanya karena sebab-sebab pribadi yang bahayanya jelas seperti wanita tidak dapat melahirkan secara wajar dan akan mengakibatkan dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Maka hal yang demikian tidak dilarang Syari. Begitu juga jika menundanya disebabkan sesuatu yang sesuai Syari atau secara medis melaui ketetapan dokter muslim terpercaya. Bahkan dimungkinkan melakukan pencegahan kehamilan dalam kondisi terbukti bahayanya terhadap ibu dan mengancam kehidupannya berdasarkan keterangan dokter muslim terpercaya. sterilisasi Para ulama membolehkan pencegahan kehamilan bila memang ada indikasi dan peringatan dari dokter tentang bahaya kesehatan ibu dan janin.

Namun untuk melakukan proses sterilisasi secara permanen, tentu bukan menjadi pilihan. Karena mencegah secara permanen termasuk merubah ciptaan Allah yang diharamkan. Karena bisa saja Allah SWT memberikan kesehatan kepada Anda sehingga tidak adalagi resiko kesehatan bayi atas kehendaknya. Sehingga saat itu Anda diizinkan oleh pihak dokter untuk punya anak. Tapi kalau Anda sudah steril maka tentu saja Anda tidak bisa punya anak selamanya. Dan pada saat itu Anda telah melakukan kesalahan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Teknisi

Status Yahoo
CALL CENTER/OFFICE:
021-8575426

Visitor

Hari ini1484
Kemarin5050
Minggu ini1484
Bulan ini82081
Keseluruhan306955

Terdapat 46 pengunjung online