| Adakah Batasan Dakwah? |
|
Rina Pertanyaan: Assalamu'alaikum Wr. Wb. Ustadz, saya punya adik bungsu usia 22 tahun yang sulit sekali dibangunkan sholat subuh. Dia sering tanpa beban meninggalkan sholat wajib. Tadinya hampir setiap hari saya bangunkan, tetapi sekarang tidak lagi karena saya jadi harus bertengkar setiap pagi. Saya juga sudah menasehati dari cara yang paling halus sampai yang paling kasar, tetapi tidak ada perubahan. Apakah saya wajib membangunkan terus atau tidak? Apakah berdakwah itu harus sampai orangnya sadar? Setiap hari saya tertekan membayangkan dosa adik saya yang sering meninggalkan sholat, apakah kalau saat ini tidak lagi membangunkannya? Wassalamu'alaikum wr wb. Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Yang jelas dakwah itu harus berpegang pada prinsif sabar. Sabar artinya tidak putus semangat dan gampang menyerah. Sehingga berdakwah itu tidak bisa ditarget sekian waktu lalu kalau tidak berhasil berhenti dan merasa lelah. Memang benar bahwa bila dalam sebuah dakwah kita bisa melihat hasil, kita akan bergembira dan semakin semangat untuk melakukannya. Dan sebaliknya, bila sekian lama dilakukan tapi hasilnya tidak jelas, biasanya orang akan surut ke belakang dan berhenti begitu saja. Hal itu juga terjadi pada nabi Nuh as yang berdakwah mengajak kaumnya tapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya dan mereka tetap dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan....(QS> Nuh : 5-9) Meski hal ini sifatnya manusiawi, tetapi kewajiban berdakwah tetap ada dan tetap wajib dilakukan. Hanya saja diperlukan strategi dan taktik serta kiat-kiat yang jitu dalam berdakwah. Ini penting mengingat dakwah itu selain kewajiban juga merupakan seni. Sehingga dalam hal ini, setiap orang yang berdakwah harus pandai memainkannya agar tidak terjadi kejenuhan dan stagnasi. Dalam kasus adik anda, ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Misalnya dengan pendekatan pribadi yang baik. Sehingga anda berhasil mencuri hati dan simpatinya sampai dia rela bangun shubuh dan shalat bersama anda. Sehingga perintah bangun subuh itu tidak terkesan perintah atau paksaan, tetapi sebuah kesadaran yang dibangun perlahan tapi pasti. Atau anda bisa memperkenalkannya dengan orang lain yang dia hormati, dimana kepada sosok tersebut, anda bisa menitipkan pesan agar adik anda itu bisa rajin shalat. Karena bisa jadi adik anda itu sudah 'bosan' melihat perintah-perintah dari anda dan belum apa-apa sudah tidak respek terhadap perintah anda. Atau bisa jadi dalam diri anda juga ada sebuah celah yang menurut pandangannya merupakan kekurangan. Sehingga dalam logika berpikirnya, buat apa nyuruh-nyuruh orang lain shalat, tetapi diri sendiri tidak diurus. Jadi ada banyak faktor dan sebab yang sebenarnya perlu anda cermati lebih dalam. Termasuk faktor kemalasan semata. Dimana satu-satunya jalan adalah dengan menggebuknya atau mengancamnya. Namun sebelum anda bertindak, ada baiknya anda diskusikan dulu masalah ini dengan sesama keluarga anda, teman-teman adik anda atau langsung kepada yang bersangkutan. Siapa tahu anda bisa menemukan faktor utama masalahnya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
|
MP3 Ceramah
Manajemen waktu