Anda di halaman: Home Muamalat Mengendalikan Hawa Nafsu & Nyontek

Mengendalikan Hawa Nafsu & Nyontek

Rizky

Assalammu‘alaikum wr. Wb.Terus terang, saya ragu, ke bagian mana saya harus mengirimkan ini, dan saya memutuskan di bagian umum ini saja. Pak ustad, saya ada Dua masalah yang menjadi momok bagi saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Saya kelas 1 SMU, dan saya ingin lebih banyak mempersiapkan bekal ke Akhirat. Tapi saya mempunyai dua kelemahan yang menghalangi saya.

Pertama, saya Orangnya, maaf mempunyai nafsu seksual yang tinggi. Di sekolah, bila guru saya cantik, saya jarang bisa konsen karena sibuk berpikir mesum. Belum lagi saya suka membuka situs porno dan menonton film dewasa. Sudah berkali-kali saya berusaha menghentikan sifat buruk ini, tetapi sulit, dan akhirnya saya kembali berbuat maksiat lagi. Kedua, saya orangnya pesimis dalam pelajaran. Saking pesimisinya, saya takut nilai saya rendah. Jadi bila ulangan saya tidak dapat menjawab soal, saya berupaya untuk mencontek. Ini adalah masalah yang sulit. Di satu sisi saya tidak mau mencontek karena ingin jujur, tapi di sisi lain saya ingin nilai saya tinggi. Kepada Pak Ustad saya mohon sekiranya bapak dapat membantu saya mengatasi masalah Saya. Terima kasih, wassalam!

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Nafsu seksual memang bisa saja tumbuh dan berkecamuk dengan hebat dalam diri seseorang. Apalagi bila nafsu itu dituruti dengan hayalan dan imajinasi. Gambar-gambar porno, cerita porno, VCD cabul dan lingkungan pergaulan adalah sarana yang instan untuk membangkitkan gairah seksual tersebut. Apalagi para remaja yang memang sedang masanya mengalami pubertas. Sesungguhnya, secara alami dorongan itu bisa saja dikurangi dan diarahkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa para pemuda bila memang sudah mempu dianjurkan untuk menikah, namun bila belum mampu, maka sebaiknya berpuasa, karena puasa dapat meredakan dorongan tersebut. Selain itu juga dengan melakukan aktifitas olahraga yang rutin dan teratur.

Namun masalah kembali lagi kepada mentalitas diri, apakah peredaman itu datang dari diri sendiri atau sekedar formalitas belaka, sementara pada tataran imajinasi, anda terus menerus mengikuti dorongan itu dengan selalu membayangkan hal-hal yang menjurus kepada masalah seksual. Jadi intinya justru pada konsentrasi pikiran. Kemana kah konsentrasi itu ingin diarahkan. Yang kedua, berkaitan dengan keinginan anda untuk mendapatkan nilai tinggi meski terkadang harus dengan cara yang tidak sah. Hal ini perlu direnungkan kembali. Karena hakikat dan tujuan seseorang untuk belajar tidak lain adalah untuk menjadi pandai atau pintar. Sedangkan nilai di raport atau hasil ujian, tidak lain cuma hal yang nisbi dan tidak menggambarkan prestasi seseorang secara tepat. Karena sifatnya sangat subjektif. Seorang guru atau dosen seringkali memberi nilai bagus kepada muridnya yang menurut pandangan dirinya baik, padahal sesungguhnya biasa-biasanya saja. Atau juga sebaliknya. Karena itu sebaiknya jangan terpaku pada nilai semata, tapi kembalikan kepada kemampuan real kita.

Unsur iman dan tidak riya‘ menjadi penting dalam hal ini. Selain itu juga kesungguhan dan kerja keras pun menjadi syarat mutlak. Biar bagaimana pun orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras tidak sama dengan orang yang hanya berkorban sedikit sedikit. Belajar itu bukanlah pada saat menjelang ujian, tapi belajar itu setiap hari meski hanya sedikit. Apapun pelajaran yang diberikan, seharusnya selalu diulang di rumah setiap hari tanpa mempedulikan sekian banyak agenda dan kegiatan lainnya. Bahkan kalau perlu pengulangan itu dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu sebelum pelajaran itu diberikan harus dibaca terlebih dahulu, kemudian setelah pelajaran itu diberikan. Selain itu perlu juga dilakukan evaluasi mingguan atas semua pelajaran yang diberikan. Karena otak manusia itu berbeda secara prinsip dasar di bandingkan harddisk pada komputer. Memori di otak perlu direkam berulang-ulang sedangkan file di harddisk cukup sekali dicopykan.

Bila usaha dan kerja keras seperti itu sudah dilakukan, maka mintalah kepada Allah agar dimudahkan dalam memahami pelajaran serta dibukakan pintu sukses. Terakhir beratawakkallah kepada-Nya atas apa yang diberikan-Nya. Bersyukur bila diberi nilai baik dan bersabar bila masih kurang baik. Jangan sekali-kali menggunakan jalan yang tidak terpuji, karena hanya akan membohongi hati nurani.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Waassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu