Anda di halaman: Home Nikah & Keluarga Kewajiban Suami

Kewajiban Suami

Assalamu alaikum wr.wb.

saya sudah menikah 1 th yg lalu dan sekarang tinggal bareng di rumah mertua termasuk kakak ipar saya dan suaminya.semua satu atap.

Suami kakak ipar saya ini bisa dibilang sdh hampir satu thn ini brubah mnjdi ahli ibadah, sholatnya selalu tepat waktul,baca al-quranya rajin,tahajud hampir setiap malam. tp yg menjadi masalah dia tdk mau bekerja,praktis setiap hari kerjanya cuma tidur,makan,ngopi,ngroko dn ibadah,brangkat sore pulang pagi pergi mengaji,siangnya tidur,sama sekali tdk bekeja, yg bekerja justru malah istrinya. PERTANYAAN SAYA : bagaimana hukumnya suami yg seperti ini, trus baigama saya sebagai adik iparny harus menyikapinya. Terimakash. Mohon jawaban.

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Dalam Islam suami dan isteri mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan. Kewajiban suami ada yang berbentuk finansial (materi) dan ada yang berbentuk non-finansial (immateri).

Yang termasuk kewajiban finansial (materi) adalah memberikan mahar, memberikan nafkah hidup sehari-hari, serta memberikan tempat tinggal. Sementara yang termasuk kewajiban non-finansial (immateri) adalah memperlakukan isteri dengan baik serta tidak melakukan tindakan berbahaya kepadanya.

Terkait dengan kewajiban finansial tersebut maka ini menuntut setiap suami untuk mencari nafkah yang halal sesuai kebutuhan. Bahkan meskipun sang isteri kaya, tetap saja kewajiban untuk memberi nafkah ada pada pundak suami sebagaimana bunyi firman Allah dalam surat al-Baqarah: 233. Sementara kewajiban untuk memberikan tempat tinggal yang layak disebutkan oleh Allah dalam surat ath-Thalaq ayat 6.

Kalau suami sudah berusaha dan bekerja sekuat tenaga untuk mencari nafkah yang halal, namun ternyata ia tetap tidak bisa memenuhi kewajiban finansialnya kepada isteri, dalam kondisi demikian insya Allah ia terlepas dari dosa. Sebab, Allah tidak membebani manusia di luar kemampuannya. Namun kalau ia tidak mau bekerja dengan alasan yang tidak syar'i (tidak dibenarkan oleh agama) sehingga nafkah isterinya menjadi terlantar, berarti ia tidak mengikuti dan tidak taat kepada perintah Allah.

Dalam Islam, ibadah yang bernilai di sisi Allah bukan hanya yang bersifat mahdah seperti shalat puasa, zikir dst. Namun memberikan sesuap makanan ke mulut isteri juga terhitung sedekah dan ibadah. Bahkan bekerja mencari nafkah halal mendatangkan ampunan dari Allah Swt seperti bunyi sabda Nabi saw. Oleh sebab itu, seorang muslim dituntut seimbang dalam memenuhi kewajiban dan kebutuhannya. Ada waktu untuk ibadah dan waktu untuk bekerja.

Atas dasar itulah hendaknya Anda sebagai adik ipar memberikan nasihat secara bijak entah secara langsung ataupun tidak langsung. Semoga upaya Anda mengingatkan kewajibannya sebagai suami mendapat nilai disisi Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Teknisi

Banner
CALL CENTER/OFFICE:
021-8575426

Visitor

Hari ini3604
Kemarin3181
Minggu ini9889
Bulan ini82280
Keseluruhan592057

Terdapat 20 pengunjung online