Anda di halaman: Home Nikah & Keluarga Lafal Cerai

Lafal Cerai

Assalammualaikum...saya hendak bertanya tentang kemusykilan lafaz cerai...saya mempunyai saudara yg malu bertanya tentang hal ini..

1)setelah lama saudara ini mendirikan rumah tangga dgn pasangan pilihan nya ini telah berlaku perselisihan dan dalam pada masa itu untuk kali pertama si suami telah bertanya "kau mau aku lepaskan kau sekarang?" si isteri ini tidak pula menjawab kerana si suami telah terangkan jika bercerai si suami tidak mahu beri kan nafkah pada isteri dan juga anak2,maka si isteri berdiam diri kerana takut dgn keterangan yg diberikan...

2)setelah beberapa minggu sisuami masih tidak berpuas hati dgn keadaaan isteri nya...dan bertanya pada si isteri untuk kali ke2 nya "kau mahu kau lepaskan kau?" jika nak aku lepaskan aku lepaskan malam ini juga...si isteri mendiamkan diri pada awal nya, tapi bersuara selepas didesak untuk menjawab pertanyaan dari si suami..si isteri menjawab "ya lepaskan saya" si suami terus berang dengan jawapan dari isteri dan menuduh isteri nya yg mahukan penceraian ini...si isteri menerangkan jika sudah tiada persefahaman,keserasiian dan juga kepercayaan untuk apa teruskan hidup berumah tangga ini.."mengapa abg tanya2-3 kali hal ini" jawab si suami "abg saja megacah untuk tgk kau" Boleh kah si suami berbuat demikian..??

Assalamu alaikum wr.wb.

Pertama-tama kami memahami dan ikut mendoakan semoga saudara Anda diberi ketabahan dalam menghadapi persoalan rumah tangganya.

Kedua, perselisihan dalam rumah tangga adalah hal lumrah. Nyaris tidak ada rumah tangga yang tidak pernah berselisih. Yang penting adalah bagaimana cara menyelesaikan perselisihan itu dengan baik dan bijaksana. Sikap sabar dan rasional harus dikedepankan agar semuanya bisa ditangani secara baik.

Ketiga, sikap suami yang menawarkan kepada isteri untuk dicerai hendaknya tidak dilakukan sebelum mencoba sejumlah cara lain. Islam mengajarkan bahwa apabila seorang suami tidak menyukai perbuatan isterinya yang menyimpang dan tidak taat, maka solusinya adalah dengan memberi nasihat. Jika tetap tidak berubah, maka bisa dengan menjauhinya di tempat tidur (tidak menggaulinya). Jika tetap tidak berubah, maka dengan memberinya pukulan yang tidak membahayakan; sekedar untuk menegaskan bahwa ia ingin isterinya berubah menjadi baik. Kalaupun upaya ini tidak berhasil, maka bisa dengan melibatkan juru penengah dari keluarga suami dan keluarga isteri yang memiliki sikap bijak dan dewasa. Jika semua cara di atas tidak berhasil, barulah perceraian dipertimbangkan sebagai solusi yang sifatnya mendesak dan darurat.

Keempat, hanya saja penawaran suami kepada isteri untuk menceraikannya, belum merupakan bentuk perceraian. Cerai atau talak baru terjadi jika suami secara langsung mengeluarkan kata cerai atau talak entah secara langsung dan jelas (mis: saya cerai engkau dst) ataupun kiasan (mis: pulanglah engkau ke rumah ibumu) dengan niat talak.

Kelima, kalau seorang suami menceraikan isterinya, maka nafkah isteri (selama masih dalam masa iddah) dan nafkah anak menjadi tanggungannya. Namun kami berharap semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik baik mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

 

 

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu