Anda di halaman: Home Nikah & Keluarga Seputar Talak dan Nafkah Suami

Seputar Talak dan Nafkah Suami

Assalamualaikum Wr. Wb.Saya ingin mengetahui hukum rujuk dalam Islam1. Apakah ada syarat2 khusus untuk rujuk atau kah hanya sekedar kembali bersama itu sudah dianggap rujuk?2. Apabila dalam kasus sang suami hanya menyarankan bukan dengan secara langsung men-talak sang istri (kasausnya istri ingin menggugat cerai suami), contohnya "apabila hubungan ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi, cepatlah kamu urus surat gugatan cerai ke pengadilan agama" ,tetapi sang istri tiddak segera melayangkan surat gugatan ke pengadilan karena dengan harapan masih bisa rujuk kembali, apakah hal tersebut bisa disebut talak?

Kalau memang sudah bisa disebut talak, apakah talaknya syah karena sang suami men-talak bukan dengan dasar memang ingin diceraikan atau bercerai, hanya karena ingin menggertak dan memberi pelajaran kepada istri3. saya pernah mendengar dari seseorang bahwa, talak tidak syah apabila sang suami masih memberikan kepada istri nafkah materi atau nafkah batin, apakah benar begitu?terima kasih atas jawabannya, saya berharap sekiranya jawabannya dapat dikirimkan melalui email Wassalamualaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum wr.wb.

Talaq- Rujuk dan Kewajiban Nafkah.

1. Talaq adalah ungkapan perceraian yang keluar dari pihak suami kepada istrinya, setelah talaq diputuskan maka akan berlaku masa iddah bagi istri (tidak boleh ada akad ijab qobul pernikahan) selama 3 bulan seperti dalam Quran surat at-talaq : ayat 4. Adapun hak istri selama masa iddah dari suaminya adalah hak rujuk (kembali menjadi istri tanpa mengulang ijab qobul), hak tinggal di rumah suami (tidak boleh diusir), hak nafkah untuk hidup. Karena pada masa iddah istri yang tertalaq tetap menjadi milik suami untuk rujuk menjadi suami istri kembali. Ungkapan rujuk semasa iddah ini bisa dengan lisan suami secara langsung atau dengan ungkapan tubuh kemesraan kepada istrinya (cumbu dan kemesraan). Namun jika sudah melewati masa iddah maka istri sudah menjadi wanita lain yang bisa dinikahi oleh pria manapun yang ingin menikahinya. Dengan demikian rujuk setelah lewat masa iddah harus mengulang ijab qobul dan mahar baru dalam pernikahannya.

2. Keinginan untuk bercerai dari pihak istri dikenal dalam islam dengan istilah khulu'. Gugatan cerai ini harus murni dari istri tanpa paksaan dari pihak suami, karena khulu' berarti penyerahan harta mahar oleh istri untuk menebus dirinya dari ikatan suami sebagaimana tersurat dalam Quran surat 2 : 222, jadi khulu' ini baru sah sebagai perceraian jika di sahkan oleh pihak pengadilan agama, karena langsung jatuh talaq bain. Karena talaq dan khulu' adalah ketetapan Alloh swt yang tidak boleh menjadi bahan candaan, gertakan dan ancaman dari suami kepada istri karena akan jatuh talaq atau minimal jika dilakukan tanpa disadari keilmuannya maka jatuhnya maksiat dan mempermainkan hukum Alloh swt.

3. Hak istri setelah di talaq (selama masa iddah). Masa iddah wanita yang ditalaq adalah 3 bulan kecuali wanita yang sedang hamil adalah sampai melahirkan QS 65 : 4, sehingga kewajiban suami tetap menanggung nafkah kehidupan istri dan juga biaya persalinannya. Adapun biaya kebutuhan anak kembali secara mutlak kepada ayah kandungnya (walau telah berpisah dengan ibu kandungnya). Selama masa iddah wanita tersebut tidak boleh di usir dari rumah suaminya karena bisa jadi selama masa iddah akan besar kemungkinan rujuk kembali. Jadi, tidak benar ungkapan yang mengatakan bahwa talak tidak syah apabila sang suami masih memberikan kepada istri nafkah materi atau nafkah batin.

Wallahu a'lam.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Nur Hamidah, Lc, MA

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Banner

Visitor

Hari ini3864
Kemarin3607
Minggu ini14396
Bulan ini105895
Keseluruhan615848

Terdapat 27 pengunjung online